Tampilkan postingan dengan label Palu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Palu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2008

Berbagi Masalah Pemilu 2009

Belum lama ini pimpinan/ perwakilan parpol di Sulawesi Tengah menghadiri acara workshop di Convention Hall Swisbelt Hotel, Palu. Acara itu buah kerjasama KPUD Sulteng bekerjasama dengan NID (National Demokratic Institute) Indonesia. Dalam workshop tersebut para peserta sepakat membentuk Forum Komunikasi guna menyikapi permasalahan yang mungkin akan muncul pada pemilu 2009.

Latar belakang pembentukan forum komunikasi tersebut adalah maraknya ketidak puasan masyarakat atas hasil pilkada di beberapa tempat yang nyaris rusuh. Namun dari beberapa pilkada di Sulwesi Tengah, tak satupun yang rusuh. Nampaknya masyarakat Sulteng sudah tahu benar bahwa rusuh akan menjadikan propinsi ini semakin tertinggal dan terbelakang. Butuh waktu dan biaya untuk mengembalikan situasi seperti dulu. Atas dasar itulah maka dibentuklah fourm komunikasi untuk mengeliminasi kesalahpahaman dan akan senantiasa mengutamakan dialog sebagai sebagai cara menjembatani perbedaan kepentingan politik dan ideologi demi suksesnya penyelenggaraan pemilu damai 2009.

Namun ada selentingan bahwa dibentuknya forum komunikasi itu adalah bagian dari muslihat KPU dan Panwas guna membagi permasalahan sengketa pemilu kepada peserta Pemilu. Penyelesaian sengketa pemilu dan tetek bengeknya adalah tugas utama KPU dan Panwas. Bukan lalu membentuk forum kemudian berbagi masalah.

Read more...

3 Jam (Padam) di Palu


Kabar Palu – Stock batubara untuk pengoperasian PLTU habis sudah. Dampaknya masyarakat kota Palu kembali harus menerima kenyataan pahit. Pemadaman bergilir seolah menjadi menu sehari-hari masyrakat Palu dan sekitarnya. Dan parahnya lagi, pihak PLN menetapkan 3 (tiga) jam menyala dan 7 (tujuh) jam padam. Pola ini pernah berlangsung menjelang bulan ramadhan kemarin. Kondisi ini akan terus berlangsung hingga 27 Oktober 2008.

PLN sendiri tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi tersebut, namun anehnya kenapa situasi ini tetap berlangsung. Lalu kerja PLN ngapain?. Pihak PLN hanya berdalih bahwa kapasitas mereka yang 19 MW tidak mampu mensuplai kebutuhan masyarakat Palu dan guna memenuhi itu membeli energi listrik dari PLUTU yang selalu kesulitan membeli batubara padahal jarak Palu – Balikpapan hanya hitungan jam jika menggunakan kapal angkua batubara. Lalu kenapa terlambat ?

Kekecewaann masyarakat Palu terhadap pelayanan PLN nampaknya mulai bangkit kembali. Pernah kalangan pegiat LSM berencana melakukan class action namun batal. Entah kenapa rencana itu batal. Sebetulnya pihak PLN perlu mendapat pelajaran berharga bila rencana class action itu jadi dilaksanaka. PLN akan mawas diri dan meningkatkan kinerja se-optimal mungkin. Selama ini PLN hanya berlindung pada PLTU. Dalihnya sih selalu sama. PLTU kehabisan pasokan batubara. Dulu juga pernah sama dalihnya. Mesin PLTD di Silae mengalami kerusakan dan perlu waktu untuk mendatangkan suku cadang. Gimana gak rusak lha wong belinya juga mesin bekas. Dan itu orderan dari Pemda Sulteng. Lho ...Pemda Sulteng ngobyek tho????


Read more...

Romantisme Kota Palu


Palu menggeliat. Istilah menggeliat saat ini cocok bagi kota Palu. Sebab selama ini kota Palu seolah terjaga dari tidur panjangnya. Palu kini mulai bangun dan menata diri untuk menjadi kota yang indah dan layak dihuni. Kenapa baru sekarang???

Entahlah… Yang pasti Palu bak gadis muda bergincu menarik siapapun yang pernah mengenalnya atau mengunjunginya. Hanya saja.., Palu tetap kota yang panas dan tetap saja sering gelap gulita walaupun telah ada PLTU toh kegelapan masih menyambangi kota ini.



Dampak dari pembangunan dan pulihnya keamanan telah mengubah Palu. Identitas Palu pun telah bergeser dari tugu ke jembatan yang megah dan indah.

Dulu, identitas Palu hanya tugu yang sering disebut Bundaran HI (Bundaran Hasanundin Indah). Tugu ini pula yang sering menjadi saksi bisu saat para aktivis menyuarakan kegelisahan rakyat Palu dalam menyikapi ketidakadilan pembangunan dan dampaknya. Menyikapi kebijakan pemerintah daerah dan pusat dalam mengelola negara. Kini identitas itu telah bergeser. Tugu itu tidak lagi menjadi daya tarik karena telah berubah rupa menjadi papan reklame. Maklum saja, sebuah kota perlu PAD dan salah satunya dari pemasang iklan yang beretebaran di poros-poros jalan utama kota. Tidak terkecuali kota Palu. Walau dengan menggadaikan romantisme masa lalu.



Kini Palu telah mempunyai identitas yang lebih menasional dibandingkan tugu yang berubah rupa. Jembatan berdiri kokoh menyatukan kota Palu yang terbelah sungai mengalir sepanjang tahun dengan airnya berwarna coklat susu membawa jutaan butir-butir lumpur dari ujung gunung akibta penggundulan hutan.



Identitas baru itulah yang saat ini banyak menghiasi header para blogger asal Palu. Dan saya pun demikian. Tidak latah tetapi karena jembatan tersebut seolah mempunya kekuatan magis untuk selalu dikunjungi dan dilewati.

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger template Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP